Taubat Seorang Pemuda Setelah Mendengar Nasihat

Bookmark and Share
  
﴿﷽﴾
In The Name of Allah, The Most Gracious, The Most Merciful
Muqaddimah

﴿ اِقْرَاۡ بِاسْمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ﴾
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”
[al-Alaq : 1]
……………………………………………………………………

Inna Alhamdulillah, nahbuduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu, wa na’uzubillah min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina, man^yahdihillahu falaa mudhillalahu, wa man^yudhil falaa hadiyalah, wa ashadu ‘an~la ilaha illa Allah wahdahu la syarikalahu, wa ashadu ‘anna Muhammad ‘abduhu wa rasuluhu. Amma ba’d.

Segala puji hanya milik Allah subhana wata’ala, kami memujiNya dan memohon pertolongan padaNya dan ampunan kepadaNya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amalan perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petujunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa Allah sesatkan, tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Aku bersaksi bahawa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahawa Muhammad itu hambaNya dan RasulNya.

 Nasihat adalah satu cara untuk mempengaruhi dan mengajak ke jalan Allah. Adalah Rasulullah selalu memperbaharui nasihat kepada para sahabat baginda ﷺ. Sebab nasihat itu jika keluar dari hati yang tulus, ia akan menembus dinding penghalang dan sampai ke dalam hati, ibarat hujan di bumi yang mati, maka bergetar dan hiduplah dengan izin Allah. Berikut ini kisah seorang anak muda yang tengah ada janji mengerjakan perbuatan haram, kemudiannya mendengar nasihat dari jauh yang menyentuh dinding hatinya, ia terbangun dari kelalaiannya dan kembali kepada  Allah.


……………………………………………………………………

  Aku seorang pemuda yang tumbuh berkembang di dalam keluarga muslim, tapi hanya sekadar Islam warisan. Keluargaku tidak pernah menganjurkan kepadaku berbuat baik mengikuti syariat Allah dan menasihatiku, dan kadang-kala mengancam bila aku tidak sekolah atau melanggar mereka dalam hal-hal keduniaan.

(Inilah kenyataan kebanyakan keluarga, sungguh sayang. Adalah kewajipan orang tua berusaha mendidik anak-anak dengan didikan Islam dan memastikan anak-anak mendapat teman-teman yang baik. Jika tidak, maka akibatnya adalah malapetaka dalam rumahtangga dan masyarakat serta negara.)

  Tidak diragukan lagi, orang yang demikian keadaannya tentu akan menuju kehancuran. Dan inilah yang terjadi kepada diriku. Aku telah mendapat cubaan berupa teman-teman yang jahat yang melakukan perkara keji dan mungkar agar terlihat baik dan menjatuhkan aku ke dalam maksiat.

  "Kami menghina ahli agama dan orang yang baik-baik serta memperolok-olokkannya, di samping kami juga mengerjakan dosa-dosa besar sebagai tanda kejantanan dan kepahlawanan. Kami sanggup berhabis duit dalam melakukan perkara-perkara hina, walaupun hal itu akan membawa kami ke penjara. Kami turut mengambil dadah dan minum arak. Solat, aku tidak kenal sama sekali. Dan andainya aku masuk masjid, orang ramai akan menganggap aneh, kerana mereka tahu aku sering melakukan perkara jahat."

  "Pada suatu malam pada waktu Isyak, aku berada dekat sebuah masjid, aku telah janji untuk kumpul bersama teman-temanku itu. Tiba-tiba ada suara yang menyentuh hatiku, yang keluar dari pembesar suara masjid, membicarakan soal syurga neraka, mati dan alam kubur. Aku rasakan suara itu dibicarakan khusus untukku dan menggetarkan hati sangat-sangat. Seolah-olah ia berkata kepadaku :
"Hai orang yang lalai! Tidakkah engkau malu kepada Allah? Tidakkah kau takut maut mendatangimu dengan tiba-tiba sedang engkau dalam keadaan seperti ini? Waspadalah! Waspadalah! Dan waspadalah!" 

Maka aku terpengaruh olehnya dan merasa takut yang teramat sangat.

Dan berlalulah malam itu.

  "Keesokan harinya, dan setelah muadzin memanggil untuk solat Isyak, aku bangkit mandi, berwudhuk, dan masuk ke dalam masjid. Dan mulailah Syeikh berbicara sedang aku berada di hujung masjid. Lalu aku mula menangis, menangisi diriku dan apa yang telah berlalu dari umurku, yaitu aku mengaibaikan hak Allah dan hak kedua orang tuaku. Setelah mengerjakan solat aku segera pulang ke rumah. Keluargaku gembira menyambut datangnya kebaikan, sebab telah menjadi kebiasaanku, aku tidak pulang ke rumah pada tengah malam atau lewatnya."

  "Sejak saat itu, aku bertaubat kepada Allah dan kembali kepada-Nya. Aku berdoa kepada Allah semoga memberikan keteguhan kepadaku dan kepada anda semua, mengampuni kami dan Syeikh yang telah menyelamatkan aku daripada kehancuran dahulu itu."

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar